Senin, 05 Juli 2010

Sambutan Menteri BUMN Pada Acara Workshop Modul Wirausaha Mandiri 2010


Jakarta, 1 Juli 2010

 
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Selamat Pagi, Salam sejahtera untuk kita semua

 
Yang Terhormat,

  • Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional

  • Bapak Ir. Ciputra, CEO Ciputra Foundation

  • Jajaran Eselon I Kementerian BUMN

  • Jajaran Direksi dan Komisaris Bank Mandiri

  • Para Rektor Perguruan Tinggi beserta segenap jajarannya

  • Bapak/Ibu Hadirin sekalian yang berbahagia,

 
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kita semua dapat hadir pada acara pembukaan Workshop Modul Wirausaha Mandiri tahun 2010. Ini adalah kali kedua dimana saya berkesempatan untuk hadir dalam acara Wirausaha Mandiri. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya mengingat arti penting program Wirausaha Mandiri terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 
Kewirausahaan merupakan isu relevan di tengah semakin meningkatnya kondisi persaingan global yang memberikan tantangan berat kepada seluruh pelaku usaha di Indonesia, termasuk generasi muda sebagai calon-calon wirausahawan baru. Oleh karena itu, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bank Mandiri yang secara konsisten memberikan kontribusi dalam usaha mengembangkan semangat kewirausahaan di Indonesia.

 
Apresiasi juga saya sampaikan kepada para rektor dan civitas akademika dari seluruh perguruan tinggi yang telah hadir dalam kegiatan hari ini. Saya harap kehadiran Bapak/Ibu sekalian dapat memberikan kontribusi maksimal dalam upaya mengembangkan semangat kewirausahaan di Indonesia.
Kesempatan berharga ini tentunya dapat digunakan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep kewirausahaan, terutama dalam hubungannya dengan pengembangan program tersebut di berbagai organisasi bisnis, termasuk BUMN. Kedepan, saya berharap kegiatan ini dapat dijadikan sebagai sarana guna membangun komunikasi dan hubungan secara berkesinambungan antara perguruan tinggi selaku institusi pendidikan yang melahirkan generasi muda penerus masa depan bangsa dengan BUMN.

 
Hadirin sekalian yang saya hormati,

 
Kondisi daya saing Indonesia secara nasional saat ini masih berada pada level yang kurang menggembirakan. Meski terdapat peningkatan dari beberapa tahun sebelumnya, Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-54 dari 136 negara yang disurvei menurut the Global Competitiveness Report tahun 2007-2008. Peringkat ini relatif cukup jauh apabila dibandingkan dengan negara tetangga, Singapura, yang menempati posisi ke-7.
Namun demikian, kita perlu melihat dengan jernih bahwa meskipun tingkat daya saing Indonesia masih rendah, Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang relatif lebih baik bila dibandingkan negara-negara tetangga. Hal ini terbukti dari indikator-indikator makro ekonomi Indonesia seperti inflasi dan nilai tukar rupiah yang relatif lebih stabil terutama dalam menghadapi krisis global beberapa waktu lalu.

 
Guna menjaga stabilitas ekonomi tersebut dan dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, Presiden telah menetapkan "10 Direktif Presiden" yang disampaikan pada Rapat Kerja Bidang Pemerintahan dan Pembangunan di Tampak Siring, Bali, tanggal 19 sampai dengan 21 April 2010. Ke-10 Direktif Presiden tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ekonomi harus tumbuh lebih tinggi.

  2. Pengangguran harus menurun dengan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak.

  3. Kemiskinan harus lebih menurun.

  4. Pendapatan per kapita harus meningkat.

  5. Stabilitas ekonomi terjaga.

  6. Pembiayaan (financing) dalam negeri makin kuat dan meningkat.

  7. Ketahanan pangan dan air meningkat.

  8. Ketahanan energi meningkat.

  9. Daya saing ekonomi nasional menguat dan meningkat.

  10. "Green Economy" (Ekonomi Ramah Lingkungan) diperkuat.

 
Arahan Presiden tersebut merupakan penjabaran dari grand program Pemerintah atau yang lebih dikenal dengan istilah triple track strategy,
yaitu pro-growth, pro-job dan pro-poor – dengan tambahan pro-environment.

 
Program pro-growth merupakan inti dari triple track strategy yang menekankan pentingnya pertumbuhan. Program ini merupakan suatu keharusan, mengingat tanpa pertumbuhan ekonomi, maka baik pro-job yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dengan target angka pengangguran 5%-6%,
maupun pro-poor
yang bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan dengan target angka kemiskinan sebesar 8%-10%, tidak akan tercapai. Arti penting dari program ini antara lain ditunjukkan dengan telah dirumuskannya target jangka menengah pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat mencapai 7,7% pada tahun 2014.

 
Hadirin sekalian yang saya hormati

 
Beranjak dari program Pemerintah dan arahan Presiden tersebut, sebagai Menteri BUMN saya ingin mencermati bagaimana BUMN dapat memainkan peran strategis dalam mendorong percepatan dan peningkatan perekonomian nasional. Sebagai instrumen negara, BUMN tentunya memegang peranan penting dalam upaya mensukseskan program tersebut.

 
Salah satu kontribusi BUMN dalam mensukseskan grand program tersebut adalah melalui belanja modal (capital expenditure) BUMN yang secara keseluruhan tidak dapat dikatakan kecil dan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 belanja modal BUMN mencapai Rp. 107,2 trilyun dan pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp. 190,8 trilyun. Angka ini sangat signifikan, karena belanja modal yang dilakukan pemerintah jauh lebih rendah, dimana pada tahun 2009 adalah sebesar Rp. 73,4 trilyun dan pada 2010 hanya meningkat menjadi Rp. 83,2 trilyun.

 
Ini berarti bahwa tanpa capital expenditure BUMN, peranan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada penyerapan tenaga kerja (pro-job) dan pengikisan kemiskinan (pro-poor) menjadi sangat terbatas. Karena itu, penambahan capital expenditure BUMN setiap tahunnya akan menciptakan kekuatan yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

 
Hadirin sekalian yang saya muliakan,

 
Meskipun belanja modal (Capex) BUMN cukup memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, kita perlu menyadari bahwa itu saja belum mencukupi untuk merealisasikan grand program Pemerintah tersebut, khususnya program pro job. Peran swasta dalam membantu mewujudkan program tersebut tentunya masih sangat diperlukan. Oleh karena itu, Kementerian BUMN memandang perlu untuk mengembangkan program yang mendorong pemberdayaan kewirausahaan sebagai suatu upaya sistemik dan terukur dalam menciptakan wirausahawan-wirausahawan tangguh.

 
Seperti yang pernah saya sampaikan pada acara Penganugerahan Penghargaan Wirausaha Mandiri pada bulan Januari 2010 lalu, upaya menciptakan wirausahawan-wirausahawan baru yang tangguh merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di dalam Undang-Undang tersebut secara jelas dinyatakan bahwa BUMN mempunyai dua tanggung jawab kepada pemegang saham (shareholder) dan masyarakat (stakeholder), yaitu untuk mengoptimalkan laba dan turut aktif dalam Program Kemitraan Usaha Kecil dan Bina Lingkungan (PKBL).

 
Berdasarkan data yang ada, saya melihat bahwa realisasi penyaluran PKBL terus mengalami peningkatan. Hal ini antara lain ditunjukan oleh nilai nominal penyaluran PKBL selama periode 1989 - 2009 yang mencapai sekitar Rp 9,69 triliun, dimana penambahan terbesar, yaitu Rp 6,38 triliun, terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Sebagai gambaran, pada tahun 2009 saja realisasi penyaluran dana PKBL mencapai Rp 1,97 triliun.

 
Apabila dilihat dari sektor usaha yang menjadi target penyaluran dana PKBL, sebagian besar dana tersebut diserap oleh sektor perdagangan, yaitu sebesar 38%, disusul oleh sektor industri dan jasa masing-masing sebesar 22% dan 19%. Selanjutnya bila ditinjau dari distribusi wilayah yang menjadi target penyaluran dana PKBL, wilayah Jawa mendominasi sebagian besar penyaluran dana PKBL, dimana Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur menerima dana PKBL sebesar 13,5% dan 13% dari total dana PKBL.

 
Jumlah mitra binaan yang menerima penyaluran dana PKBL juga menunjukan trend peningkatan. Sebagai ilustrasi, realisasi jumlah Mitra Binaan penerima penyaluran PKBL sampai dengan tahun 2009 telah mencapai lebih dari 650.000 Mitra Binaan atau meningkat lebih dari 374.000 dari posisi Mitra Binaan pada tahun 2004.

 
Bapak/Ibu sekalian yang saya muliakan,

 
Saya menyambut baik langkah yang dilakukan Bank Mandiri dalam menjalankan program-program PKBL seperti penyelenggaraan Wirausaha Mandiri dengan menggandeng perguruan tinggi. Sinergi seperti ini saya yakini dapat lebih mengoptimalkan tujuan yang akan dicapai serta merupakan jawaban dan upaya strategis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi guna mengejar ketertinggalan dari negara lain. Kegiatan PKBL sudah seharusnya dirancang untuk lebih inovatif sehingga memberikan dampak yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 
Hal ini berarti kegiatan PKBL jangan hanya terpaku pada program membagi-bagikan sembako, namun lebih fundamental lagi yaitu untuk mendukung dan mendorong kemampuan tunas-tunas muda kita para mahasiswa, untuk menjadi tulang punggung kegiatan perekonomian Indonesia di waktu mendatang. Suatu pilihan yang tepat dan perlu dilanjutkan serta dapat dijadikan benchmark bagi BUMN lain dalam menyusun program PKBL.

 
Lebih dari itu, saya menilai program PKBL dalam bentuk pengembangan kewirausahaan sangat tepat bagi Bank Mandiri. Hal ini mengingat program kewirausahaan memiliki kaitan langsung dengan core activity atau aktivitas usaha utama Bank Mandiri sebagai lembaga pembiayaan. Saya mendapat laporan bahwa Bank Mandiri setiap bulannya membiayai lebih dari 25.000 pengusaha-pengusaha mikro/kecil baru, sehingga tentunya sangat berkepentingan bagi lahirnya para pengusaha baru. Aktivitas PKBL yang bertujuan melahirkan wirausahawan yang tangguh, dengan integritas serta kapabilitas yang baik tentu akan lebih memiliki pengaruh berganda bagi pengembangan ekonomi.

 
Menurut Sosiolog David McClelland, untuk menjadi bangsa yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2% entrepreneur dari total penduduknya. Sebagai contoh, Amerika Serikat pada tahun 2007 telah memiliki 11,5% entrepreneur, Singapura pada tahun 2005 memiliki 7,2% entrepreneur, sedangkan kita di Indonesia baru memiliki kurang dari 1% entrepreneur. Wirausaha merupakan tulang punggung dari ekonomi, penggerak dari kegiatan ekonomi suatu bangsa. Semakin banyak wirausaha maka semakin kuat perekonomian kita.

 
Kita semua tentu mengetahui bahwa kewirausahaan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari hanya dengan textbook, dihafalkan, diujikan dan kemudian lulus dengan hasil baik, melainkan sesuatu yang lebih mendalam. Wirausaha memerlukan pengajaran dengan cara yang berbeda. Mulai dari memberikan motivasi, contoh-contoh dan yang paling penting adalah upaya untuk mempraktekkan, karena wirausaha tidak bisa hanya dalam bentuk konsep teori di atas kertas.

 
Menjadi wirausahawan berarti menjadi pelaku usaha, yang memiliki perhitungan, berani mengambil langkah berisiko, termasuk risiko mengalami kegagalan, dan tidak mudah putus asa untuk meraih sukses. Bapak Ciputra sebagai figur wirausaha sukses dan dapat dikatakan soko guru kewirausahaan nasional, dalam bukunya yang berjudul "Quantum Leap" mengatakan 10 kali gagal 11 kali bangkit. Setiap kegagalan merupakan anugerah karena kita mendapat tambahan ilmu pengalaman dari kegagalan tersebut.

 
Melalui program ini, kita harapkan tingkat kewirausahaan di Indonesia dapat terus meningkat sehingga nantinya masyarakat Indonesia tidak lagi hanya dapat menjadi pencari kerja atau pegawai tapi sebagai pencipta kerja atau pembuka lapangan kerja. Kementerian BUMN mendukung sepenuhnya upaya BUMN yang bertujuan untuk meningkatkan lapangan kerja. Saya tentu berharap bahwa Modul Kewirausahaan maupun pembinaan yang dilakukan nantinya bagi para wirausaha muda akan membangun kapabilitas dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 
Bapak/Ibu yang saya hormati,

 
Dalam kesempatan ini saya kembali ingin memberikan apresiasi yang kepada seluruh jajaran manajemen Bank Mandiri yang telah berupaya secara inovatif menyusun program kewirausahaan bersama dengan civitas akademik sehingga mampu menjadi pioneer dalam pengembangan kewirausahaan melalui jalur formal akademis.

 
Saya harap kedepan program-program seperti ini dapat diikuti oleh BUMN-BUMN lain sehingga pada akhirnya generasi muda sebagai kader kaum cerdik cendekia bangsa dapat menjadi pengusaha-pengusaha tangguh guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

 
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan pada hari ini.

 
Semoga niat dan kerja keras kita diberkahi oleh Allah SWT. Amin.

 
Terima kasih.

 
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 
Menteri Badan Usaha Milik Negara

Mustafa Abubakar


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar